Rabu, 11 Oktober 2017

Terlambat

 Ada saatnya semesta menyadarkan kita, ia adil dalam memberikan luka.


"Keyla?"

Dia menoleh sambil membenarkan barang belanjaan yang memenuhi tangannya. Kedua matanya membesar, mungkin kaget melihat laki laki di hadapannya kini. 

Aku tersenyum, meski ia terlihat canggung. 

"Gerry? Sama siapa?"

Lalu kami menyusuri jalanan malioboro yang tak pernah sepi oleh pejalan kaki. Ia lebih banyak diam, dan aku dengan ketololanku masih bingung mencari obrolan cocok untuk mencairkan suasana, meski banyak tanda tanya yang menggantung di kepala. 

"Kerja di mana sekarang Key?"

"Di agency advertising Jakarta, kamu sendiri?"

"Coba tebak?"

"Apa? Kontraktor? Juragan minyak?" 

Aku tertawa. Dia tertawa. 

"Aku jadi wartawan foto sekarang" aku menunjukkan beberapa hasil fotoku lewat kamera dslr yang sedari tadi menggantung di leherku. Ia menggangguk, dan mengamati sebentar. 

Seperti langit dan bumi. Kami jauh berbeda. Aku yang suka berpetulang, dan dia bukan orang lapangan. 

"Jadi, kamu udah keliling Indonesia dong? Secara kamu kerja di media travelling?" 

Aku tersenyum, "yaa bisa dibilang begitu, tahun lalu aku sempat ke Belanda ada tawaran kerja di sana." 

Belanda. Tempat yang ia impikan dulu. Masa yang pernah ada dan masih ku ingat hingga kini. Aku tahu, ia sangat tertarik obrolan ini. Ia melongo, takjub melihatku.

"Wow, enak banget. Aku belum kesampaian ke sana. Asyik ya jadi kamu,"

Aku terdiam. Mencari cari apa asyiknya jadi aku. Berkelana, melihat dunia, tapi setelahnya, aku tak tahu harus pulang ke mana. 

"Hmm mama kamu gimana? Baik?" tanyanya lagi.

Aku hanya bisa menghela napas, "InshaAllah baik Key, dijaga Tuhan di surga"

Langkah Keyla terhenti. Lalu menghadap aku, matanya berkaca-kaca,

"Aku minta maaf Ger, aku gatau kabar itu. Turut berduka cita ya," Ia mengelus pundakku. 

Rasanya aku ingin luluh dalam rengkuhnya detik itu juga. Ingin kembali ke lima tahun yang lalu saat peluknya masih ada untukku. 

Seandainya bisa, aku ingin memperbaiki semuanya, aku adalah laki laki pengecut yang menorehkan luka pada Keyla. Aku yang meninggalkan dia, aku yang pergi tak ingin ditemui. 
Tapi setelah aku berhasil lepas kemudian mencari, tak kutemukan perempuan yang lebih baik lagi.  

Dan malam ini, sepertinya semesta sedang kompak berkolaborasi dengan hati. Setelah puluhan tempat aku singgahi, tapi di sini, aku menemukan dia lagi, di kota aku dan Keyla pertama kali dipertemukan. Tapi apakah semuanya bisa aku perbaiki?

"Hotel kamu masih jauh? Mau naik becak aja?" 

"Enggak usah, aku lebih suka jalan kaki," sahut Keyla di sampingku. 

Tubuhnya yang mungil, matanya yang besar, senyumnya yang lebar, ini adalah perempuan yang pernah mencintaiku begitu sabar dengan segala kekurangan yang aku miliki. Tapi, pantaskah aku meminta kembali? 

"Key?"

"Ya?" Ia mendongak melihatku

"Maafin aku yang dulu ya," suaraku lirih

"Udah, lupain aja, bukannya semuanya nggak bisa dipaksa?"

Aku tersenyum. 

"Aku jahat banget sama kamu dulu."

"Emang," dia tertawa

Aku semakin mati kutu. Ingin menampar diriku sendiri berkali kali detik ini.

"Key?"

Sebelum menjawab handphone Keyla bergetar, ia mengambil dua langkah di depanku, lalu bercakap terburu dengan orang diseberang telepon. Lalu Keyla menghampiriku setelah menyelesaikan obrolannya. 

"Yuk, hotelku di gang ini. Kamu mau ke mana?"

"Nganterin kamu dulu aja"

Aku lihat pipinya bersemu merah. Wajahnya yang salah tingkah selalu bisa ku tebak karena sedari dulu tak pernah berubah. 

"Key?"

"Ya?"

"Maafin aku ya?"

"Iya Ger, gimana sama perempuan itu dulu? Yang pernah menggantikan aku?" 

Aku terdiam. Menggeleng. Dasar laki laki brengsek. Dan sejujurnya, aku tidak pernah mencintai perempuan lain sebaik aku mencintai Keyla meski aku pernah mendua. 

Key, tidak ada yang pernah menggantikan kamu. Tidak ada yang pernah mencintaiku sebesar dan sesabar kamu.Tidak ada aku lagi yang mencintai perempuan lain, sebanyak aku mencintaimu, dulu. 

Aku larut dalam pikiranku sendiri, semuanya berkecamuk jadi satu. 

"Sampai Ger. Makasih ya udah mau nganterin." 

Ah cepat sekali, aku ingin jalanan malioboro lebih panjang 10 kali lipat daripada ini. Aku mengangguk. 

Kami sama sama canggung lagi dengan perpisahan kali ini. Terlalu banyak yang ingin ku katakan. 
Aku ingin kembali menebus kesalahanku. Aku ingin mengatakan aku menyayanginya.

"Hai" 

Aku tersentak. Tiba tiba ada laki laki datang menghampiri kami lalu merangkul Keyla. 

"Kenalin, ini temen aku, Gerry"
Aku menyambut uluran tangannya. Aku terkesiap.
"Ger, ini tunanganku."

Sekejap kebisingan malioboro hening seketika. Semuanya beku, aku mematung. Napasku seperti terhenti.

"Seminggu lagi kami menikah, kalau kamu bersedia, undangannya aku kirim ke rumah kamu," Keyla tersenyum. Senyumnya tak lagj manis.

Aku menelan ludah. Ku anggukan kepalaku dengan susah payah. Otakku seperti tak ingin bekerja. Semua berceceran karena baru saja meledak.

"Yaudah. Makasih Ger.aku ditunggu keluargaku di kamar."

Tunangannya tersenyum ke arahku.
Mereka berbalik badan masuk ke hotel tempat mereka menginap.
Dan kakiku
Terpaku.
Dunia menertawakanku.

Read More




Senin, 09 Oktober 2017

Selamat, tampan

Beraninya kamu,

Merindukan aku

Tapi

Bibirmu masih mengecup keningnya

Sepasang lenganmu

masih memeluknya

Beraninya kamu,

diam-diam memperhatikanku

di saat dia sedang gelisah menunggu kabarmu

Selamat tampan,

Kau sedang mencetak rekor terburukmu
Read More




Jumat, 22 September 2017

Sederhana?

"Nduk, jadilah pribadi yang sederhana,"

Mama selalu bilang seperti itu ketika saya terkadang menginginkan banyak hal yang harus dibeli. Apalagi jika saya mengenakan cat kuku, mama selalu berucap,

"Nduk, kamu nggak usah pake kayak gitu udah cantik."

"Tapi ma aku tuh lagi pengen aja..."

"Cowok nggak mau kalau kamu terlalu berlebihan."

Emang pake cat kuku berlebihan ya? Ah, saya sudah pernah menuruti kata mama waktu itu. Mungkin menantu idaman mama adalah seperti dia yang belum bisa saya taklukan hatinya, kesahajaannya, kesederhanannya yang bisa membuat semua perempuan kehilangan napas dalam satu kali tatap. Tapi dia di mana ya sekarang? Mungkin sudah ada perempuan yang kedewasaannya dan ketaatannya pada agama yang sudah dia mantapkan untuk dinikahi. Hahaha.

Saya pernah pada suatu ketika semester satu. Ketika masih gencar-gencarnya mau ngegebet senior, ketika ke kampus sering pakai kemeja dan naudzubillah rapi banget sebelum semester tua cuma pake sweater abu-abu yang udah belel.

Guys, saya ke kampus waktu itu selalu pakai maskara, dan eyeliner jadi cat eye dikit gitu kan. Pakai hand bag sebelum pake tas ransel kayak sekarang karena harus bawa laptop ke mana-mana.

Udah deh, waktu itu saya menjelma menjadi maba yang masih semangat-semangatnya kalau soal penampilan.

Dan jeng-jeng tiba tiba muncullah wejengan mama soal perempuan sederhana.
Ehem, waktu itu saya lagi naksir seseorang juga.
Mulailah saya ini mengubah penampilan.

Nggak pake maskara, nggak pake eyeliner, pake lipstik tipis banget.

Waktu masuk kelas, seorang temen saya yang kampret nyeletuk,

"Dev, belom mandi ya?"

Panik dong.
"Emang keliatan belum mandi ya?"

Ya begitulah, jadi diri sendiri aja. Sederhana atau nggaknya biar orang lain menentukan. Karena setiap orang punya standar masing-masing.
Saya cuma nggak mau aja dapet orang yang kalo saya pergi ngafe which is itu sebulan cuma sekali atau dua kali ngecap saya boros dan hedon.
Nggak mau dapet celetukan kalo cuma jalan jalan di mall nyari diskon dan mau beli barang yang dibutuhin dibilang boros.
Sana ke hutan aja deh dikit dikit dibilang hedon dibilang boros.
Hei dude, harus gimana sih biar dicap sederhana. Jadi saya begini aja, tergantung mereka.

Read More




Kamis, 21 September 2017

Berputar


http://weheartit.com

Adit

Gue nggak tahu kenapa semesta lagi berbaik hati banget sama gue hari ini, setelah gue merasa menjadi orang paling sial karena nguber-nguber dosen pembimbing skripsi gue nggak ketemu, tapi sekalinya ketemu malah banyak banget yang direvisi bahkan kalau bisa judulnya diganti. Setres nggak lo kalo jadi gue?
Tapi hari ini, detik ini, kayak anak kecil ketiban sekarung permen dan dikasih satu truk gulali, gue seneng banget, man! Di belakang gue sekarang ini, ada perempuan yang cantik banget kayak bidadari  mau bonceng vespa butut gue ini. Saat saat kayak gini nih udah gue nanti sejak dua tahun yang lalu. Mana bisa gue boncengin dia malem-malem begini dulu, soalnya dia udah punya anjing (re : pacar). Dan kali ini dia baru aja putus sama pacarnya. Tiba-tiba ngontak gue karena mobilnya mogok setelah dia pulang magang. 

Gue nggak bisa ngalihin pandangan ke spion. Sesekali mencuri pandang, melirik dia, berharap bidadari gue ini baik-baik aja diboncengin vespa tua gue ini. 

"Ra, lo nggak apa-apa?"

Sedari tadi dia diem mulu, berasa ngebonceng patung. 

Dia nggak menjawab. Pandangan matanya kosong, dan gue nggak tahu harus gimana selain nyetirin dia. Eh, tapi ini gue harus ke mana? Gue asal tancap gas aja waktu dia telfon gue satu jam yang lalu.

"Ra, ini kita mau ke mana?" 

Gue bisa liat dia kaget setelah gue pegang tangannya.

"Makan dulu aja kaliya gue laper, Dit."

"Mau makan apa? sate padang?" 

"Boleh," 

Man, gue tahu banget makanan kesukaannya, buku favorit, film action yang bikin dia jadi freak, sampai lagu-lagu yang sering banget dia nyanyiin. Ehem, gini-gini gue penyanyi favoritnya dia kalau suruh ngover lagu yang dia request

Gue udah cinta banget sama ini bidadari sejak dulu kami satu kelas waktu SMP. Gila nggak lo, menganggumi orang bertahun-tahun dan menahan-nahan nggak menyatakan cinta karena terlalu pengecut. Karena, apalah gue dibanding Aura yang terkenal seantero sekolah dulu dan gue yakin dia masih jadi bidadari idaman di kampusnya dia. 

Dan lo semua harus tahu, yang bikin gue jatuh cinta sama ini cewek adalah dia tuh nggak bitchy sok manja sama cowok-cowok lain walaupun banyak tuh lusinan cowok yang mau sama dia. Dia itu pemilih banget. Lo tau? cewek yang punya mata cokelat dan bibir tipis ini cuma punya dua mantan, jadi tiga sama yang baru dia bangga-banggain ke gue dua tahun belakangan. 

"Dit, gue nggak laper. Kita ke tempat nongkrong biasa aja ya di atas," pintanya sambil megang pundak gue. 

"Hah? Serius lo Ra? ini udah hampir jam 10 malem," 

Ini Aura kenapa sih tiba-tiba jadi aneh begini. Masa gara-gara naik vespa gue bisa jadi kenyang.
Pada akhirnya gue puter balik. Untung bidadari gue yang minta, kalau orang lain udah gue turunin paksa di tengah jalan. Dipikir nggak jauh apa puter balik dari ujung kota ke ujung kota. 

Tempat yang dimaskud adalah tempat wajib nongkrong kami dulu kalau gue atau dia lagi penat. Di situ tuh cuma ada warung kecil semacam angkringan dan beberapa meja kursi, tapi man, pemandangannya bagus banget. Sejauh mata lo memandang, cuma lampu-lampu kota yang sekejap bisa menghipnotis lo untuk nggak mikirin hidup yang emang makin ke sini jadi makin susah. 

"Sampai, tuan puteri," 

Dia tersenyum kecil, lalu turun dari boncengan vespa gue. Tapi dia nggak melepas helm. Dia cuma berdiri mematung ngeliat lampu-lampu kota. Ini bidadari kesayangan gue kesambet apa ya?

"Ra, dicopot dulu ya helmnya," gue membantu dia melepas helmnya. Dengan jarak sedekat ini, gue bisa menelusuri mata cokelatnya yang teduh, kedua alisnya yang panjang natural nggak perlu dikasih pensil alis, hidungnya yang mancung kayak prosotan di Mcd, dan bibir tipisnya yang merah muda tanpa perlu polesan lipstik. Ra, sekusut ini aja, lo tetep masih sempurna buat gue. 

Dia cuma menurut dan bilang, "Makasih ya, Dit" sambil menatap gue. 
Jantung gue kayak mau loncat ditatap sedeket itu sama Aura. Gila, bahaya banget nih kalo nggak gue kontrol. 

Gue cuma mengikuti dia yang ambil duduk di bagian paling depan, paling deket liat pemandangan dan paling deket juga sama jurang. Gue nggak tahu, tumben sepi. Cuma ada sepasang kekasih, dan dua cowok yang lagi gitaran nggak jelas. 

"Lo kenapa sih Ra? Lo marah sama gue yang jemput lo pake vespa? Maaf ya, mobil gue dipake sepupu,"

"Gapapa, Dit. Gue juga kangen kok diboncengin vespa butut lo, jadi inget waktu SMP dulu. Lagian kenapa sih nggak dijual aja?"

"Udah terlanjur sayang Ra. Kalau udah sayang banget, mau jelek kayak apapun, lo bakal nggak bisa lepas,"

Tiba-tiba senyum bidadari gue itu hilang. Aura cuma diem di samping gue. Kepalanya tertunduk.
What happen here?

"Ra? Kenapa?" gue mendekat mengamatinya, dan gue melihat pipinya basah.

Shit. Lo kenapa Ra, apa yang salah di sini?

"Cerita Ra, lo kenapa?" gue mengulang pertanyaan gue. Sebagai laki-laki gue sebenernya nggak bisa diem gini aja, gue mau banget meluk bidadari gue satu ini. Tapi, ya kali gue peluk.

Dan entah ini hari keberuntungan atau apa, baru kali ini gue sedeket ini sama dia, dia tiba-tiba membenamkan kepalanya di dada gue. Gue ulang ya, di dada gue. Nggak sia-sia gue ngegym tiap hari kalau dada gue ini dipake bidadari. Man, ini kalo dia bisa denger suara jantung gue yang lagi deg-deg an nggak karuan dia ketawa nggak ya. 

Gue bisa mencium bau parfum vanilanya dengan jarak sedeket ini. Terima kasih Tuhan, sekarang gue punya alasan buat membelai rambut perempuan yang bikin gue jatuh cinta bertahun-tahun ini. Tapi siapa yang berani menyakiti Aura sampai bidadari gue ini nangis malem-malem begini?


***

 Aura

Because every single people has one person in mind. 

Sudah sebulan aku dan dia mengakhiri hubungan yang telah mati-matian aku pertahankan. Sudah ku terima dia apa adanya dengan seluruh hati. Tapi, aku masih bukan menjadi hal terpenting di dalam hidupnya. 

Di kepala ini masih kamu satu-satunya yang menjadi penghuni tetap meski sudah ku usir berkali-kali dengan kesibukan kantor, tapi kamu tetap menjelma menjadi kenangan super lekat yang tak bisa ku musnahkan. Aku relakan kamu pergi, aku relakan kamu membenahi hidupmu yang berantakan dengan kedua tanganmu sendiri. Aku pikir kamu akan membangun masa depan denganku, tapi nyatanya aku seperti debu-debu di ruang kamar yang ingin cepat-cepat kau singkirkan. 

Kini ku jelajahi duniamu dengan sosial media, lalu ku temukan kamu mengenggam tangan lain di sebuah foto instagram yang baru kamu unggah setengah jam yang lalu.

Mataku memanas. Tanganku bergetar masih memegang handpohoneku. Kamu menggenggam tangan lain dan berani-beraninya kamu masih melekatkan jam tangan pemberianku waktu ulang tahunmu terakhir yang tidak sempat kita rayakan karena kita sedang bertengkar hebat waktu itu.

Kamu tidak pernah bertanya kenapa aku beri kamu jam tangan, bukan sepatu seperti yang kau butuhkan. Jam tangan yang melekat di pergelangan tanganmu, yang kini kau gunakan untuk menggandeng perempuan lain adalah sebagai pengingat, Wir. Bahwa pernah ada kita dalam setiap putaran detik, pernah ada kita yang pernah mengacaukan detak, pernah ada kita yang berani berharap bahwa waktu tidak cukup mampu mengubah kita. 

Brengsek. Siapa dia,Wir?

Berani beraninya kamu Wira Herawan.  Entah berapa kebohongan yang kamu ciptakan sebelum kamu  melepaskan aku. Aku seperti onggokan sampah di sudut kota. Sebodoh itu aku, mau dipermainkan laki-laki yang dua tahun sudah aku bangga-banggakan di hadapan siapapun?

Dan aku kini lebih bodoh, menangis malam-malam di pelukan Adit, sahabat sejak SMP ku dulu.

"Maaf, Dit," Ku angkat kepalaku, dan ku lihat kaos polo putihnya basah.

Dia menatapku nanar, 

"Dit, kenapa gue nggak berharga di mata orang yang gue cintai sepenuh hati?"


***
Adit 

Ini seperti kisah tanpa ujung yang jelas, siapa mencintai siapa, dan siapa berharap kepada siapa. Sampai kapan kayak gini?  Berputar di situ-situ aja, dan kampretnya lagi bertahun-tahun.

Gue selalu dibutuhkan ketika bidadari cantik gue ini patah hati. Selalu ada mata gue yang menatap dia lekat saat menangis, selalu ada dua telinga gue yang denger cerita sedihnya dia, selalu ada waktu gue yang gue sempet-sempetin sesibuk apapun gue. Seperti sekarang, gue membatalkan acara penting ketemu sama temen gue buat ngebahas bisnis. Dan selalu ada mulut gue yang bilang di akhir pertemuan, 

"Tenang Ra, semua bakal baik-baik aja. Kalau ada apa-apa langsung hubungin gue aja. Gue kan sahabat elo,"

Monyet nggak? Gue cuma bisa sanggup bilang bahwa gue ini sahabatnya dia ketimbang sebagai laki-laki yang akan mencintai dia sampai kapan pun.

Gue nggak bisa ngejawab pertanyaan terakhir yang keluar dari bibir Aura setelah dia melepaskan pelukannya. Karena gue juga nggak bisa tahu kenapa lo, nggak bisa ngeliat gue sebagai laki-laki yang selalu ada karena mencintai elo. 
***




Read More




Senin, 11 September 2017

Selamat Tambah Tua !

Duh...mulai darimana ya. Jadi grogi, takut dibilang sok romantis.
Oke.

Ini tulisan kedua yang aku tujukan ke kamu setelah sekian lama karena dunia aku yang makin sibuk, isinya udah nggak kamu melulu kayak dulu.
Rasanya, udah lama ya kita nggak cerita-cerita. Sejak kamu ada motor, kamu udah nggak pernah minta boncengin aku lagi. Sejak kita punya pacar, makin deh ada jarak. Kamu sama pacar kamu dulu dan aku sama pacar aku yang dulu. 

Terus...

Kamu putus, tapi udah nemu yang baru
Aku putus juga, tapi masih sendiri. HAHAHA 

Aku udah nggak sesering dulu main ke kosan kamu sampe tidur berdua di kasur yang sering bunyi "kretek-kretek" kalo kita gerak dikit aja. Aku udah nggak sesering dulu, tiba-tiba nyampe di depan pintu kosan kamu terus kadang nggak ngetok pintu, ngagetin kamu.

Aku nggak sesering dulu, boker di kosan kamu sampe kamu kadang ngomel-ngomel sama aku. 
Aku nggak sesering dulu ngeluh-ngeluh cerita ini-itu sama kamu.

Kita nggak sesering dulu pergi bareng, ngayal bareng, saling nasehatin, tapi ya aslinya sama-sama rapuh.

Sekarang, bahkan aku lupa kita terakhir ketemu kapan.

Kadang aku tuh kangen wid. Kangen kadang kamu nelfon curhat sambil nangis-nangis tapi bikin aku ngakak. 

Tapi ya makin dewasa aku ngerti, kita punya prioritas sendiri.
Aku inget kamu pernah ngomong 

"Dev gapapa dev ini kita naik motor, naik beat, besok kita udah bisa naik mobil. Fighting!"
Aku ketawa-ketawa aja wid di belakang kamu, kamu masih ngoceh sambil nyetir. Inget?

Terakhir kali aku ke kosanmu, kapan ya?
Pokoknya, aku udah liat sederet whist list kamu.
Gila ya, kamu makin dewasa aja. 

Aku udah nggak pernah liat kamu ngeluh masalah hidup.

Kamu udah nggak pernah insecure bilang "Dev, aku cantik nggak?"

Aku udah nggak pernah liat childishnya kamu di depan si abang. 

Entah kamu udah dewasa, atau kamu nyembunyiin semuanya, berusaha tegar.

Tapi inget Wid,
Aku tuh walaupun jarang ngehubungin kamu, aku selalu siap buat kamu ajak cerita.

Nggak apa-apa kalau kamu lebih nyaman sendiri, daripada aku malem-malem masih nongkrong di kedai sampe larut.

Wid, ini kenapa panjang banget ya.

Masih banyak yang mau aku tulis.

Kayak kenangan kita waktu maba. Entah kenapa masih melekaaat banget. Apalagi kalau dengerin lagu RAN - Dekat di Hati

Dan waktu kamu nangis di depan dosen dan anak kelas, gara gara TA in aku. Sumpah waktu itu you are my hero gila!
Kamu bilang kamu nggak di suruh. Kurang baik apa sih Wid kamu sama aku. 

Wid, aku baru sadar. Dan aku baru bersyukur sekarang
Kita selalu satu project bareng kalo tugas kuliah. Walaupun aku sering ngeluh-ngeluh kalo kamu malesnya minta ampun. Nggak deng, tapi kamu gercep.
Kalo nggak se-project, mungkin kita nggak punya waktu lagi Wid buat bareng.

Udah ya Wid,
Ini aku nulis waktu lagi magang di kantor
Selamat ulang tahun. Selamat tambah dewasa, kita. 
Read More




Rabu, 30 Agustus 2017

Berhenti

Kau tahu Anya dan Ale dalam novel Critical Eleven yang telah difilmkan? Mereka mengibaratkan hubungan mereka adalah sebuah jembatan yang dibakar. Tak ada pilihan untuk kembali, mereka harus berlari ke depan. Bersama. Tapi sebaliknya, aku dan kamu, membakar kita. Tak menyisakan apa-apa selain debu kenangan yang kadang mampir disela ingatan.

Ku ingat suaramu diujung telepon,

"Sekarang aku lebih sayang sama diri aku sendiri, lebih cinta sama dunia aku sendiri, daripada kamu."

Duniaku berhenti berputar detik itu. Napasku berhenti sejenak, mencerna kata-kata yang baru ku dengar dari seberang. Perlu kamu tahu, kamu telah membakar aku hidup hidup waktu itu.

Ku relakan semuanya, ku ampuni dengan segala pemakluman keadaan. Ku bangkitkan diriku kembali sendiri.
Aku ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa kau begitu hanya sementara.

Pura-pura ku minta satu kotak martabak untuk mencairkan suasana. Ingat? Pikirku,aku akan punya setidaknya satu malam panjang bersamamu sebelum kita tak punya waktu lagi.

Kau datang begitu terlambat. Ku luangkan waktuku dengan segala kesibukan yang menyekapku waktu itu, tapi kau, waktu, dan satu kotak martabakmu tidak hadir di waktu yang tepat.

Aku bisa apa.

Tidak, aku tidak menuntutmu apa-apa.
Aku tidak menyalahkanmu.
Aku telah berdamai pada masa itu.
Aku mengenangmu dengan damai,
tak menyelipkan apa-apa
karena semua sudah berhenti.


Read More




Kamis, 03 Agustus 2017

Dua hati yang patah

Kita adalah dua hati yang patah lalu dipertemukan

yang disetiap perbincangan menyisipkan tanya

“Gimana jodoh?”

Sama sama menerka, lalu mengabaikan jawaban

Menit berikutnya aku mendengarmu memetik gitar

Bersenandung lagu lagu melankolis kesukaanmu

Lalu hening

Aku tertawa

Menertawakan kita

Yang pernah patah lalu berusaha menghilang dengan mencari kesibukan

kita yang pernah memperjuangkan

tapi sama sama disingkirkan

Aku, kamu, mereka tidak pernah tahu

Tentang takdir

Tapi setidaknya aku bisa belajar dari kamu

Tentang segala keluasan isi kepalamu

Juga belajar mengenai kelapangan dadamu

baik baik di sana

baik-baik untuk kita.
Read More




Jumat, 30 Juni 2017

Jahat



Berganti tahun. Perasaan ini masih tetap seperti dua tahun yang lalu.

Ndra, kamu jahat.

Kamu hilang tanpa kabar. Tanpa kepastian.

Aku lelah menerka maksut kedatanganmu Desember lalu.

Enyah saja, kamu membuat harapan ini seperti api disiram bensin.

Begitu besar.

Dan menghabisi aku.

Melalap aku hidup-hidup.

Aku tahu di seberang sana banyak yang kamu pikirkan tentang kita.

Lalu kenapa kita tidak bertemu saja?


Kenapa semuanya kamu buat semakin rumit, Ndra?

Kau tak pernah menjanjikan pulang

Tapi sapamu bulan lalu begitu melekat di ruang ingatan

Mengapa kau tak membuat ini semua menjadi sederhana?

Indra, aku rindu.



Aku,

Perempuan yang pernah kau sebut rumah




Read More




Return to top of page
Powered By Blogger | Design by Genesis Awesome | Blogger Template by Lord HTML