Kamis, 21 September 2017

Berputar


http://weheartit.com

Adit

Gue nggak tahu kenapa semesta lagi berbaik hati banget sama gue hari ini, setelah gue merasa menjadi orang paling sial karena nguber-nguber dosen pembimbing skripsi gue nggak ketemu, tapi sekalinya ketemu malah banyak banget yang direvisi bahkan kalau bisa judulnya diganti. Setres nggak lo kalo jadi gue?
Tapi hari ini, detik ini, kayak anak kecil ketiban sekarung permen dan dikasih satu truk gulali, gue seneng banget, man! Di belakang gue sekarang ini, ada perempuan yang cantik banget kayak bidadari  mau bonceng vespa butut gue ini. Saat saat kayak gini nih udah gue nanti sejak dua tahun yang lalu. Mana bisa gue boncengin dia malem-malem begini dulu, soalnya dia udah punya anjing (re : pacar). Dan kali ini dia baru aja putus sama pacarnya. Tiba-tiba ngontak gue karena mobilnya mogok setelah dia pulang magang. 

Gue nggak bisa ngalihin pandangan ke spion. Sesekali mencuri pandang, melirik dia, berharap bidadari gue ini baik-baik aja diboncengin vespa tua gue ini. 

"Ra, lo nggak apa-apa?"

Sedari tadi dia diem mulu, berasa ngebonceng patung. 

Dia nggak menjawab. Pandangan matanya kosong, dan gue nggak tahu harus gimana selain nyetirin dia. Eh, tapi ini gue harus ke mana? Gue asal tancap gas aja waktu dia telfon gue satu jam yang lalu.

"Ra, ini kita mau ke mana?" 

Gue bisa liat dia kaget setelah gue pegang tangannya.

"Makan dulu aja kaliya gue laper, Dit."

"Mau makan apa? sate padang?" 

"Boleh," 

Man, gue tahu banget makanan kesukaannya, buku favorit, film action yang bikin dia jadi freak, sampai lagu-lagu yang sering banget dia nyanyiin. Ehem, gini-gini gue penyanyi favoritnya dia kalau suruh ngover lagu yang dia request

Gue udah cinta banget sama ini bidadari sejak dulu kami satu kelas waktu SMP. Gila nggak lo, menganggumi orang bertahun-tahun dan menahan-nahan nggak menyatakan cinta karena terlalu pengecut. Karena, apalah gue dibanding Aura yang terkenal seantero sekolah dulu dan gue yakin dia masih jadi bidadari idaman di kampusnya dia. 

Dan lo semua harus tahu, yang bikin gue jatuh cinta sama ini cewek adalah dia tuh nggak bitchy sok manja sama cowok-cowok lain walaupun banyak tuh lusinan cowok yang mau sama dia. Dia itu pemilih banget. Lo tau? cewek yang punya mata cokelat dan bibir tipis ini cuma punya dua mantan, jadi tiga sama yang baru dia bangga-banggain ke gue dua tahun belakangan. 

"Dit, gue nggak laper. Kita ke tempat nongkrong biasa aja ya di atas," pintanya sambil megang pundak gue. 

"Hah? Serius lo Ra? ini udah hampir jam 10 malem," 

Ini Aura kenapa sih tiba-tiba jadi aneh begini. Masa gara-gara naik vespa gue bisa jadi kenyang.
Pada akhirnya gue puter balik. Untung bidadari gue yang minta, kalau orang lain udah gue turunin paksa di tengah jalan. Dipikir nggak jauh apa puter balik dari ujung kota ke ujung kota. 

Tempat yang dimaskud adalah tempat wajib nongkrong kami dulu kalau gue atau dia lagi penat. Di situ tuh cuma ada warung kecil semacam angkringan dan beberapa meja kursi, tapi man, pemandangannya bagus banget. Sejauh mata lo memandang, cuma lampu-lampu kota yang sekejap bisa menghipnotis lo untuk nggak mikirin hidup yang emang makin ke sini jadi makin susah. 

"Sampai, tuan puteri," 

Dia tersenyum kecil, lalu turun dari boncengan vespa gue. Tapi dia nggak melepas helm. Dia cuma berdiri mematung ngeliat lampu-lampu kota. Ini bidadari kesayangan gue kesambet apa ya?

"Ra, dicopot dulu ya helmnya," gue membantu dia melepas helmnya. Dengan jarak sedekat ini, gue bisa menelusuri mata cokelatnya yang teduh, kedua alisnya yang panjang natural nggak perlu dikasih pensil alis, hidungnya yang mancung kayak prosotan di Mcd, dan bibir tipisnya yang merah muda tanpa perlu polesan lipstik. Ra, sekusut ini aja, lo tetep masih sempurna buat gue. 

Dia cuma menurut dan bilang, "Makasih ya, Dit" sambil menatap gue. 
Jantung gue kayak mau loncat ditatap sedeket itu sama Aura. Gila, bahaya banget nih kalo nggak gue kontrol. 

Gue cuma mengikuti dia yang ambil duduk di bagian paling depan, paling deket liat pemandangan dan paling deket juga sama jurang. Gue nggak tahu, tumben sepi. Cuma ada sepasang kekasih, dan dua cowok yang lagi gitaran nggak jelas. 

"Lo kenapa sih Ra? Lo marah sama gue yang jemput lo pake vespa? Maaf ya, mobil gue dipake sepupu,"

"Gapapa, Dit. Gue juga kangen kok diboncengin vespa butut lo, jadi inget waktu SMP dulu. Lagian kenapa sih nggak dijual aja?"

"Udah terlanjur sayang Ra. Kalau udah sayang banget, mau jelek kayak apapun, lo bakal nggak bisa lepas,"

Tiba-tiba senyum bidadari gue itu hilang. Aura cuma diem di samping gue. Kepalanya tertunduk.
What happen here?

"Ra? Kenapa?" gue mendekat mengamatinya, dan gue melihat pipinya basah.

Shit. Lo kenapa Ra, apa yang salah di sini?

"Cerita Ra, lo kenapa?" gue mengulang pertanyaan gue. Sebagai laki-laki gue sebenernya nggak bisa diem gini aja, gue mau banget meluk bidadari gue satu ini. Tapi, ya kali gue peluk.

Dan entah ini hari keberuntungan atau apa, baru kali ini gue sedeket ini sama dia, dia tiba-tiba membenamkan kepalanya di dada gue. Gue ulang ya, di dada gue. Nggak sia-sia gue ngegym tiap hari kalau dada gue ini dipake bidadari. Man, ini kalo dia bisa denger suara jantung gue yang lagi deg-deg an nggak karuan dia ketawa nggak ya. 

Gue bisa mencium bau parfum vanilanya dengan jarak sedeket ini. Terima kasih Tuhan, sekarang gue punya alasan buat membelai rambut perempuan yang bikin gue jatuh cinta bertahun-tahun ini. Tapi siapa yang berani menyakiti Aura sampai bidadari gue ini nangis malem-malem begini?


***

 Aura

Because every single people has one person in mind. 

Sudah sebulan aku dan dia mengakhiri hubungan yang telah mati-matian aku pertahankan. Sudah ku terima dia apa adanya dengan seluruh hati. Tapi, aku masih bukan menjadi hal terpenting di dalam hidupnya. 

Di kepala ini masih kamu satu-satunya yang menjadi penghuni tetap meski sudah ku usir berkali-kali dengan kesibukan kantor, tapi kamu tetap menjelma menjadi kenangan super lekat yang tak bisa ku musnahkan. Aku relakan kamu pergi, aku relakan kamu membenahi hidupmu yang berantakan dengan kedua tanganmu sendiri. Aku pikir kamu akan membangun masa depan denganku, tapi nyatanya aku seperti debu-debu di ruang kamar yang ingin cepat-cepat kau singkirkan. 

Kini ku jelajahi duniamu dengan sosial media, lalu ku temukan kamu mengenggam tangan lain di sebuah foto instagram yang baru kamu unggah setengah jam yang lalu.

Mataku memanas. Tanganku bergetar masih memegang handpohoneku. Kamu menggenggam tangan lain dan berani-beraninya kamu masih melekatkan jam tangan pemberianku waktu ulang tahunmu terakhir yang tidak sempat kita rayakan karena kita sedang bertengkar hebat waktu itu.

Kamu tidak pernah bertanya kenapa aku beri kamu jam tangan, bukan sepatu seperti yang kau butuhkan. Jam tangan yang melekat di pergelangan tanganmu, yang kini kau gunakan untuk menggandeng perempuan lain adalah sebagai pengingat, Wir. Bahwa pernah ada kita dalam setiap putaran detik, pernah ada kita yang pernah mengacaukan detak, pernah ada kita yang berani berharap bahwa waktu tidak cukup mampu mengubah kita. 

Brengsek. Siapa dia,Wir?

Berani beraninya kamu Wira Herawan.  Entah berapa kebohongan yang kamu ciptakan sebelum kamu  melepaskan aku. Aku seperti onggokan sampah di sudut kota. Sebodoh itu aku, mau dipermainkan laki-laki yang dua tahun sudah aku bangga-banggakan di hadapan siapapun?

Dan aku kini lebih bodoh, menangis malam-malam di pelukan Adit, sahabat sejak SMP ku dulu.

"Maaf, Dit," Ku angkat kepalaku, dan ku lihat kaos polo putihnya basah.

Dia menatapku nanar, 

"Dit, kenapa gue nggak berharga di mata orang yang gue cintai sepenuh hati?"


***
Adit 

Ini seperti kisah tanpa ujung yang jelas, siapa mencintai siapa, dan siapa berharap kepada siapa. Sampai kapan kayak gini?  Berputar di situ-situ aja, dan kampretnya lagi bertahun-tahun.

Gue selalu dibutuhkan ketika bidadari cantik gue ini patah hati. Selalu ada mata gue yang menatap dia lekat saat menangis, selalu ada dua telinga gue yang denger cerita sedihnya dia, selalu ada waktu gue yang gue sempet-sempetin sesibuk apapun gue. Seperti sekarang, gue membatalkan acara penting ketemu sama temen gue buat ngebahas bisnis. Dan selalu ada mulut gue yang bilang di akhir pertemuan, 

"Tenang Ra, semua bakal baik-baik aja. Kalau ada apa-apa langsung hubungin gue aja. Gue kan sahabat elo,"

Monyet nggak? Gue cuma bisa sanggup bilang bahwa gue ini sahabatnya dia ketimbang sebagai laki-laki yang akan mencintai dia sampai kapan pun.

Gue nggak bisa ngejawab pertanyaan terakhir yang keluar dari bibir Aura setelah dia melepaskan pelukannya. Karena gue juga nggak bisa tahu kenapa lo, nggak bisa ngeliat gue sebagai laki-laki yang selalu ada karena mencintai elo. 
***




Read More




Senin, 11 September 2017

Selamat Tambah Tua !

Duh...mulai darimana ya. Jadi grogi, takut dibilang sok romantis.
Oke.

Ini tulisan kedua yang aku tujukan ke kamu setelah sekian lama karena dunia aku yang makin sibuk, isinya udah nggak kamu melulu kayak dulu.
Rasanya, udah lama ya kita nggak cerita-cerita. Sejak kamu ada motor, kamu udah nggak pernah minta boncengin aku lagi. Sejak kita punya pacar, makin deh ada jarak. Kamu sama pacar kamu dulu dan aku sama pacar aku yang dulu. 

Terus...

Kamu putus, tapi udah nemu yang baru
Aku putus juga, tapi masih sendiri. HAHAHA 

Aku udah nggak sesering dulu main ke kosan kamu sampe tidur berdua di kasur yang sering bunyi "kretek-kretek" kalo kita gerak dikit aja. Aku udah nggak sesering dulu, tiba-tiba nyampe di depan pintu kosan kamu terus kadang nggak ngetok pintu, ngagetin kamu.

Aku nggak sesering dulu, boker di kosan kamu sampe kamu kadang ngomel-ngomel sama aku. 
Aku nggak sesering dulu ngeluh-ngeluh cerita ini-itu sama kamu.

Kita nggak sesering dulu pergi bareng, ngayal bareng, saling nasehatin, tapi ya aslinya sama-sama rapuh.

Sekarang, bahkan aku lupa kita terakhir ketemu kapan.

Kadang aku tuh kangen wid. Kangen kadang kamu nelfon curhat sambil nangis-nangis tapi bikin aku ngakak. 

Tapi ya makin dewasa aku ngerti, kita punya prioritas sendiri.
Aku inget kamu pernah ngomong 

"Dev gapapa dev ini kita naik motor, naik beat, besok kita udah bisa naik mobil. Fighting!"
Aku ketawa-ketawa aja wid di belakang kamu, kamu masih ngoceh sambil nyetir. Inget?

Terakhir kali aku ke kosanmu, kapan ya?
Pokoknya, aku udah liat sederet whist list kamu.
Gila ya, kamu makin dewasa aja. 

Aku udah nggak pernah liat kamu ngeluh masalah hidup.

Kamu udah nggak pernah insecure bilang "Dev, aku cantik nggak?"

Aku udah nggak pernah liat childishnya kamu di depan si abang. 

Entah kamu udah dewasa, atau kamu nyembunyiin semuanya, berusaha tegar.

Tapi inget Wid,
Aku tuh walaupun jarang ngehubungin kamu, aku selalu siap buat kamu ajak cerita.

Nggak apa-apa kalau kamu lebih nyaman sendiri, daripada aku malem-malem masih nongkrong di kedai sampe larut.

Wid, ini kenapa panjang banget ya.

Masih banyak yang mau aku tulis.

Kayak kenangan kita waktu maba. Entah kenapa masih melekaaat banget. Apalagi kalau dengerin lagu RAN - Dekat di Hati

Dan waktu kamu nangis di depan dosen dan anak kelas, gara gara TA in aku. Sumpah waktu itu you are my hero gila!
Kamu bilang kamu nggak di suruh. Kurang baik apa sih Wid kamu sama aku. 

Wid, aku baru sadar. Dan aku baru bersyukur sekarang
Kita selalu satu project bareng kalo tugas kuliah. Walaupun aku sering ngeluh-ngeluh kalo kamu malesnya minta ampun. Nggak deng, tapi kamu gercep.
Kalo nggak se-project, mungkin kita nggak punya waktu lagi Wid buat bareng.

Udah ya Wid,
Ini aku nulis waktu lagi magang di kantor
Selamat ulang tahun. Selamat tambah dewasa, kita. 
Read More




Rabu, 30 Agustus 2017

Berhenti

Kau tahu Anya dan Ale dalam novel Critical Eleven yang telah difilmkan? Mereka mengibaratkan hubungan mereka adalah sebuah jembatan yang dibakar. Tak ada pilihan untuk kembali, mereka harus berlari ke depan. Bersama. Tapi sebaliknya, aku dan kamu, membakar kita. Tak menyisakan apa-apa selain debu kenangan yang kadang mampir disela ingatan.

Ku ingat suaramu diujung telepon,

"Sekarang aku lebih sayang sama diri aku sendiri, lebih cinta sama dunia aku sendiri, daripada kamu."

Duniaku berhenti berputar detik itu. Napasku berhenti sejenak, mencerna kata-kata yang baru ku dengar dari seberang. Perlu kamu tahu, kamu telah membakar aku hidup hidup waktu itu.

Ku relakan semuanya, ku ampuni dengan segala pemakluman keadaan. Ku bangkitkan diriku kembali sendiri.
Aku ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa kau begitu hanya sementara.

Pura-pura ku minta satu kotak martabak untuk mencairkan suasana. Ingat? Pikirku,aku akan punya setidaknya satu malam panjang bersamamu sebelum kita tak punya waktu lagi.

Kau datang begitu terlambat. Ku luangkan waktuku dengan segala kesibukan yang menyekapku waktu itu, tapi kau, waktu, dan satu kotak martabakmu tidak hadir di waktu yang tepat.

Aku bisa apa.

Tidak, aku tidak menuntutmu apa-apa.
Aku tidak menyalahkanmu.
Aku telah berdamai pada masa itu.
Aku mengenangmu dengan damai,
tak menyelipkan apa-apa
karena semua sudah berhenti.


Read More




Kamis, 03 Agustus 2017

Dua hati yang patah

Kita adalah dua hati yang patah lalu dipertemukan

yang disetiap perbincangan menyisipkan tanya

“Gimana jodoh?”

Sama sama menerka, lalu mengabaikan jawaban

Menit berikutnya aku mendengarmu memetik gitar

Bersenandung lagu lagu melankolis kesukaanmu

Lalu hening

Aku tertawa

Menertawakan kita

Yang pernah patah lalu berusaha menghilang dengan mencari kesibukan

kita yang pernah memperjuangkan

tapi sama sama disingkirkan

Aku, kamu, mereka tidak pernah tahu

Tentang takdir

Tapi setidaknya aku bisa belajar dari kamu

Tentang segala keluasan isi kepalamu

Juga belajar mengenai kelapangan dadamu

baik baik di sana

baik-baik untuk kita.
Read More




Jumat, 30 Juni 2017

Jahat



Berganti tahun. Perasaan ini masih tetap seperti dua tahun yang lalu.

Ndra, kamu jahat.

Kamu hilang tanpa kabar. Tanpa kepastian.

Aku lelah menerka maksut kedatanganmu Desember lalu.

Enyah saja, kamu membuat harapan ini seperti api disiram bensin.

Begitu besar.

Dan menghabisi aku.

Melalap aku hidup-hidup.

Aku tahu di seberang sana banyak yang kamu pikirkan tentang kita.

Lalu kenapa kita tidak bertemu saja?


Kenapa semuanya kamu buat semakin rumit, Ndra?

Kau tak pernah menjanjikan pulang

Tapi sapamu bulan lalu begitu melekat di ruang ingatan

Mengapa kau tak membuat ini semua menjadi sederhana?

Indra, aku rindu.



Aku,

Perempuan yang pernah kau sebut rumah




Read More




Bukan Curhat

Liburan panjang, membawa saya menulusuri folder-folder di laptop saya. Foto-foto hingga tulisan-tulisan saya. Saya temukan cerita-cerita fiksi yang masih separuh. Mungkin jika tokoh-tokoh ciptaan saya bisa bersuara, mereka akan memaki  habis-habisan karena menggantungkan cerita mereka.

Lalu sajak-sajak sedih.
Doa.
Harapan.
Semuanya ada di dalam tulisan saya.

Lalu mulai sekarang,
saya akan memindahkan tulisan-tulisan itu di sini.
Agar bisa kalian baca.
Pastinya dengan segala perubahan.

Tapi,
percayalah
bahwa tulisan-tulisan saya setelah ini bukan curhat
Sungguh.

Selamat menikmati.
Read More




Rabu, 28 Juni 2017

Pertanyakan Kembali




Pertanyakan lagi kepada dirimu sendiri, dia hadir dan kau pilih untuk apa jika lebih banyak melahirkan luka?


Aku melihat Bima sedari tadi mondar-mandir sambil menggenggam ponselnya. Raut wajahnya begitu kesal sekaligus cemas, ia tak mendapatkan kabar satupun dari kekasihnya.

“Ck, tenang aja sih Bim, Nova nggak akan kenapa-kenapa kok.”, Lontarku kesal melihatnya yang selalu mengkhawatirkan sahabatku satu itu.

“Masalahnya ini hujan deras Je. Dan dia lagi sakit.”

“Nova udah gede, semuanya bakal baik-baik aja. Dia bisa jaga diri daripada aku. Percaya deh, dia ini mungkin lagi kejebak hujan di kantor.”

“Tapi…”

“Apa?" 

“Seenggaknya dia ngehubungin aku.”

Aku terdiam, lalu memilih larut dalam pekerjaanku di layar laptop, membiarkan Bima ditelan kekhawatirannya yang terlalu berlebihan. Aku bisa menjawab pertanyaannya seandainya aku tega. Aku bisa saja menasehatinya sampai mulutku berbusa, tapi kalau orang sedang jatuh cinta, orang-orang sekitarnya bisa apa?

Aku tahu, bagaimana perjuangan Bima mendapatkan sahabatku satu itu. Bagaimana ia memperlakukan Nova seperti tuan puteri yang selalu diantar jemput pulang pergi, bagaimana ia mengistimewakan perempuan satu itu, bagaimana ia selalu mengalah untuk mendapati lengkung lebar dibibir Nova.

Budak cinta.

Bima begitu mencintai Nova, dan Nova yang mencintai Bima apa adanya, tanpa perlu usaha apa-apa. Bagaimana bisa?

Jawabannya satu.

Nova tidak begitu menginginkan Bima sebenarnya. Ia menerima cinta Bima karena ingin menghargai seluruh usaha laki-laki berambut gondrong itu. Meskipun, aku tak setuju keputusannya, karena sejak keputusannya, sahabatku itu malah melahirkan banyak luka, meski kadang mereka terlihat seperti pasangan yang paling bahagia.

Mungkin aku cemburu pada Nova yang bisa mendapatkan Bima. Aku selalu memberitahunya, betapa diberkatinya ia oleh Tuhan dihadirkan laki-laki sebaik Bima. Sedangkan aku?

Aku yang tak pernah mencicipi perlakuan istimewa dari kekasihku dulu. Ia tak menghubungiku ketika aku tak menghubunginya terlebih dahulu, ia tak menawarkan menemaniku ke manapun, padahal aku tak suka kemana-mana sendirian. Apa-apa yang aku inginkan, aku selalu memohon terlebih dahulu. Sedangkan aku,

Aku rela basah oleh hujan hanya untuk mengantarkannya makanan tanpa ia bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak, aku rela menghabiskan hampir seluruh tabunganku untuk memberi kejutan ulang tahun namun aku  tak mendapati binar bahagia dalam matanya, aku yang rela pulang larut malam menemaninya ketika bersedih tanpa ia mengkhawatirkan keadaanku bagaimana. Aku yang harus mengerti dia sedang kecewa atau marah, sedangkan ia tak mau tahu, betapa kecewanya aku. 

Aku yang meleburkan duniaku untuknya, dan dia tetap memiliki dunianya beserta seluruh egonya. 

Dan kini tak lagi. 

Ketika orang yang kau sayangi tak bisa memperlakukan dan menghargaimu dengan benar, bagaimana kelak ia menjadi pasanganmu yang bisa menjaga dan menyayangimu dengan sabar?

“Bim…” Aku memanggil Bima dengan lirih. Sementara ia sedang memejamkan matanya, sambil menyandarkan tubuhnya di atas sofa.

“Cinta banget sama sahabatku satu itu?”

“Bangetlah. Kamu tau sendiri aku gimana kan sama Nova.”

“Terus, Nova sendiri gimana?” Aku balik bertanya.

Bima terdiam. Aku mengemasi barangku sambil menunggu jawabannya.

“Dia…" Jawabannya terhenti. Mungkin sedang mengingat-ingat.

"Dia sayang kok sama aku,” Jawabnya lirih. Lebih tepatnya ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

“Semoga seperti itu.” Aku hanya tersenyum lalu bersiap pergi dari kafe yang sudah kami singgahi sejak  tiga jam yang lalu sambil menunggu hujan reda.

Aku ingin memberinya waktu untuk berpikir. Karena kadang, orang jatuh cinta mengutamakan apa yang ia rasa dibanding logika. Ia tak peka oleh kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan pasangannya, percaya dan mengatasnamakan apa yang dilakukan itu adalah cinta, padahal itu tipuan belaka. Lalu, lahirlah para manusia-manusia yang diperbudak oleh cinta.

Kaum-kaum yang terpenjara, memandang sempit perasaan bahagia, berpatokan pada satu orang yang diyakini ia adalah cinta padahal sebenarnya ia hanya mirip dengan cinta padahal bukan. 

Dan aku, belajar, kita boleh berkorban, tapi kita tak perlu sampai jungkir balik memutar isi kepala hingga mengabaikan hati sendiri yang berkali-kali luka dan kecewa untuk mempertahankan seseorang yang menjanjikan bahagia. Cinta yang benar, tahu bagaimana cara mengitari kita dengan bahagia tanpa perlu memohon. Ia akan memberi tanpa kita minta berkali-kali.

Sebelum aku menghilang dari balik pintu, aku berpesan pada Bima,

"Bim, makasih ya udah ada yang jagain Nova sebaik kamu. Tapi, jangan sampai, apa yang kamu miliki, malah menyakiti dirimu sendiri."

"Je, aku bakal buat dia sayang sama aku sama seperti aku sayang sama dia."

"Oke, tapi kamu tau konsekuensi kamu apa. Jangan ngeluh ya."

Bima terdiam lagi.

Sementara aku  langsung meninggalkan Bima sendiri.
Melihat Bima seperti melihat diriku sendiri satu tahun yang lalu. Antara ingin pergi, atau percaya akan ada keajaiban mengubah kekasih yang aku banggakan menjadi manusia yang bisa mencintaiku dengan baik.

Tapi, pertanyaan yang selalu menghujani kepala adalah satu pertanyaan yang sama,

Sampai kapan begini dan rela dijatuhkan berkali-kali?



Read More




Kamis, 22 Juni 2017

Pecinta Kafe

Tiba-tiba saya tergelitik untuk menuliskan ini entah kenapa. Baru saja, saya melihat feed instagram saya yang sudah tidak teratur lagi. Foto-foto yang terpampang lebih banyak pantai, kafe, dan kopi. Sepertinya hidup saya dalam lingkaran itu-itu saja. Dan saya tersadar, kecintaan saya pada kafe ataupun kedai kopi sempat membawa saya ke kehidupan mereka. 

Mereka yang sibuk dibalik bar meracik kopi, para waiters yang ramah, ataupun sang pemilik yang berupaya menjadikan kafenya senyaman mungkin untuk pengunjung. Sebelum saya berkutat pada ranah ini, saya ingin mundur pada tiga tahun ke belakang.

Saya adalah manusia yang terobsesi pada kafe. Dulu sempat, saya membuat daftar, kafe mana yang harus saya singgahi di kota ini dengan teman-teman saya. Kafe baru mana yang harus dicoba, dan bahkan ketika ke luar kota pun, saya tidak absen untuk mengunjungi kafe paling di kenal di kota itu hanya untuk menikmati suasananya, mengabadikan momen, dan mencari ruang untuk mengobrol dengan orang-orang yang saya sayang. 

Oh, satu lagi. Kebanyakan cerita fiksi yang saya buat pun tak jauh juga dari yang namanya kafe. Seringkali saya juga curi-curi pandang ke arah barista di balik bar yang dengan tekun menyeduh kopi orderan saya. Hehehe.

Sebegitunya saya dengan kafe. Kadang, bila ada kafe yang bangunannya terbuat dari kaca-kaca besar, yang membuat saya bisa melihat aktivitas mereka dari luar, saya senang mengamati mereka meski hanya sebentar. Ini kebiasaan apa ya namanya? Entah, ada suatu kekaguman yang saya lekatkan pada kafe dan segala isinya.

Lalu Tuhan sangat berbaik hati memberi kesempatan untuk mengenalkan saya ke dalam kehidupan mereka. Saya dekat, saya hidup di dalamnya. Dengan segala kekaguman dan kenyamanan kafe yang kita singgahi, ternyata saya baru tahu ada kerumitan dan perjuangan orang-orang di balik layar untuk mempertahankan kafenya. 

Bagi saya kafe adalah tempat setiap manusia membagi cerita. Coba tebak, ada berapa cerita di setiap kepala-kepala yang sedang duduk di sofa kafe? Terkadang, saya senang mengamati ekspresi mereka yang betah berlama-lama di sebuah kafe. Entah hanya diam memandangi laptop dengan satu cangkir kopi, atau berisik mengobrol seru dengan teman-temannya.

Saya adalah manusia yang senang singgah di kafe, oh satu lagi, musiknya. Kafe nyaman, musik syahdu, latte art yang cantik, dan barista tampan, akan selalu saya gantungkan di ingatan saya. 



Read More




Return to top of page
Powered By Blogger | Design by Genesis Awesome | Blogger Template by Lord HTML